PEMBINAAN PADUAN SUARA DI PERGURUAN TINGGI

Oleh Suharto

A. Tujuan penyelenggaraan musik paduan suara di perguruan tinggi:

  1. Menyalurkan bakat dan minat mahasiswa terhadap musik, khusunya paduan suara.
  2. Meningkatkan apresiasi musik mahasiswa.
  3. Meningkatkan prestasi dan prestise PT
  4. Musik sebagai alat pendidikan (budi pekerti, kedisiplinan, kecerdasan, dll.)
  5. Melaksanakan peraturan-peraturan / kesepakatan bersama tentang penyelenggaraan event-event kegiatan seni di lingkungan kampus bagi mahasiswa (Peksiminas, Festival-festival Paduan suara, dll.

B. Pengertian Paduan
Paduan suara merupakan bentuk penyajian musik vokal yang dihadirkan oleh suatu grup, baik secara unisono maupun dalam beberapa suara. Wujud paduan suara (sehingga disebut paduan suara) adalah perpaduan antar suara menjadi satu warna suara, yaitu warna paduan suara dengan memperhatikan keseimbangan antar kelompok suara, satu ekspresi, dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Membentuk suara paduan suara, dengan banyak suara diibaratkan membuat kopi susu, jika sudah jadi harus berwarna kopi susu, dan terasa kopi susu pula, bukan hanya kopinya saja atau susunya saja yang terasa lebih dominan (Simanungkalit).
Vokal paduan suara /vokal koor dalam paduan suara disebut juga choral voice, yang membedakan dengan suara solo. Karena, suara paduan suara adalah bunyi serempak dengan harmonisasi tertentu dari banyak suara dan dari anggota paduan suara.

C. Jenis Paduan suara
Paduan suara ada beberapa jenis : paduan suara unisono, paduan suara dua suara sejenis, paduan suara 3 suara sejenis, paduan suara 3 suara campuran, paduan suara 4 suara campuran.

D. Pemilihan anggota
Sebaiknya dalam merekrut anggota paduan suara harus selektif, harus memperhatikan minat, kemampuan dasar (musikal), dan kedisiplinan. Kurang dari salah satu akan mengganggu.

E. Pelatih dan Pemimpin Paduan suara.
Pelatih paduan suara dapat merangkap sebagai pemimpin paduan suara (conductor), sehingga di tangan pemimpin inilah grup itu akan menjadi baik atau buruk. Pemimpin ibarat ”nafas” paduan suara. Pemimpin paduan suara adalah denyut suata paduan suara, dan dialah wajah suatu penyajian paduan suara (Binsar Sitompul, 1986). Seorang pemimpin paduan suara bisa dianggap sebagai ”ilmuwan” paduan suara. Seorang pemimpin paduan suara sebaiknya memiliki kemampuan (1) menguasai teori musik dan praktek musik, (2) terampi membaca notasi musik, (3) menguasai teknik paduan suara, (4) memiliki kepekaan nada yang kuat, (5) mengetahui pengetahuan tentang repertoir, memiliki seni medireksi (conducting), (6) kepribadian menarik, (7) sehat jasmani dan rohani, (8) berwibawa.

F. Teknik Paduan suara
1. Pernafasan
Pernafasan merupakan ”motornya” orang bernyanyi. Di antara bermacam-macam pernafasan (pernafasan dada, perut, pundak dan diafragma), pernafasan diafragmalah yang dianggap baik untuk bernyanyi. Ada juga yang mengkombinasikan antara pernafasan diafragma dan perut.
Salah satu bentuk latihan pernafasan adalah :
Menghitung dari satu sampai dengan empat dengan suara yang jelas dan teratur. Pada hitungan ke empat mengambil nafas sedalam-dalamnya dengan cepat. Latiha ini dilakukan berulang-ulang.
Menghitung dari satu sampai tiga setengah ketuk, lalu mengambil nafas dengan cepat pada sisi setengah hitungan dari ketukan ke empat. Latihan ini dilakukan berulang-ulang.
Latihan menahan nafas sambil mengitung (diucapkan) sebanyak-banyaknya
Sambil berbaring dan meletakan buku atau benda lain di atas perut sambil berolah nafas.
Dll.
2. Membentuk Suara atau Produksi Suara (Voice Pruduction)
Teknik Produksi suara merupakan mekanisme dari koordinasi dan kerja sama alat-alat penghasil bunyi. Jika kerjasama itu benar kita akan mendengar bunyi yang baik. Istilah kerjasama mekanisme gerak ini sering disebut fisiologi
Prosesnya:
Pita suara dapat digerakan saling mendekat rapat dan menjauh, selain juga kendor atau tegang. Jika dalam posisi saling menjauh, maka saluran kerongkongan terbuka dan kita dapat menarik atau melepas nafas dengan leluasa. Sebaliknya jika dalam kedua membran itu saling mendekat hingga rapat, saluran kerongkongan tertutup dan nafas tidak bisa masuk. Jika kita salurkan nafas dengan teratur melalui celah di antar pita suara itu, akan terjadilah suara karenakedua pita suara itu bergetar.
Suara akan menjadi nyaring karena ada alat pengeras (resonator) seperti rongga mulut, rongga kepala, rongga hidung, dan rongga dada. Alat-alat ini yang disebut resonansi suara. Lengkapnya alat yang menjadi resonator adalah mulut, puncak leher, oral pharinx, nasal pharinx, post nasal cavities (rongga hidung) trachea, bronchi rongga dada, dan rongga kepala. Menurut urutan tingkat suara resonansi dapat dibagi menjadi 3 : resonansi kepala, resonansi tengah (rongga mulut dan hidung), dan resonansi dada.

Semakin baik ruang-ruang itu beresonansi semakin bagus dan semakin kaya warna suara dan kekuatannya. Suara yang bagus adalah hasil pembentukan bunyi (artikulasi, diksi) dan resonansi yang baik.
Latihan-latihan ini bisa dilakukan saat pemanasan (vokalizi). Vokalisi yang normal biasanya sekitar 15 sampai 30 menit. Namun demikian bisa fleksible asal jangan kurang dari 15 menit.
3. Kepaduan (Blend)
Padu bulat, menyatu (blend) itulah siri itama musik paduan suara. Suara-suara dari banyak peserta dan kelompok suara yang berbeda harus menjelma menjadi satu warna dan satu bahasa yaitu warna paduan suara.
Beberapa syarat untuk mencapai blend di dalam lingkungan satu kelompok suara :
Tinggi nada (pitch) harus tepat-bersih. Nada yang tidak tepat antar suara menjadikan suara keruh. Di sinilah perlunya pemanasan (vokalizi) sebelum membawakan lagu.
Kualitas suara yang baik. Ini tergantung dari cara membentuk suara dan cara membentuk vokal (vowels).
Menggunakan register yang sama
Penggunaan register yang berbeda (ada yang falseto dan ada yang suara leher), juga antara sopran dan alto yang jauh warnanya menjadikan suara tidak padu (berwarna warni)
Penggunaan vibrato yang tidak terkendali.
Vibrasi boleh digunakan asal jangan terlalu besar intensitasnya dan jangan menjolkan individu. Sebaiknya hanya bebarapa saja, kecuali dia sebagai solis.
Tingkat dinamik yang seragam
Penyamaan dinamik agar tidak ada yang lebih menojol, agar tidak terdengar sia-sia penggarapannya.

4. Keseimbangan (balance)
Faktor keseimbangan tidak lepas dari blend. Jika dalam blend adalah untuk menciptakan kesamaan atau kepaduan antar personil dan kelompok suara maka teknik keseimbangan ini untuk menciptakan keseimbangan antar kelompok suara. Keseimbangan ini untuk menghindari tidak ada kelompok suara yang paling dominan suaranya. Keseimbangan ini bisa meliputi kekuatan, warna, dinamik, irama, dan sebagainya.
5. Diksi
Yang membedakan musik paduan suara dan musik instrumentalia adalah pemakaian kata-kata yang membawakan nada-nada dari komposisi. Perpaduan kata-kata dengan musik inilah yang harus dicermati pemimpin paduan suara agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Teks dalam lagu tidak sekedar menuntut kata-kata yang jelas, tajam secara teknis, tetapi lebih dari itu yaitu cara-cara mengucapkan sekaligus mengungkapkan makna, isi, bahkan sampai pada yang bersifat emosional. Inilah yang disebut diksi. Jadi diksi sudah termasuk artikulasi, yang merupakan upaya mencari interpretasi dari kata-kata.

Suku kata –bai yang pertama dinyanyikan 1 ½ ketuk sedangkan suku kata –bai kedua dinyanyikan sepanjang 2+2 ketuk, dan hampir sepanjang 4 ketuk itu dinyanyikan pada vokal ”a” dan baru pada momen ke-4 ketukan akan berakhir vokal ”i” yang dimunculkan.

Karena peserta paduan suara yang cukup banyak sama dengan instrumen vokal yang banyak juga. Karena hal ini bisa menimbulkan kekacauan dalam hal artikulasi yang muncul walaupun dengan teknik vokal yang benar. Oleh karena itu kadang ”diakali” dengan pengucapan-pengucapan yang ”dimanipulasi” sehingga jika dinyanyikan secara bersama-sama dalam paduan suara itu akan terdengar lebih jelas, tergantung kesan apa yang ingin kita dapatkan, gagahn sendu, lincah, dsb.
Contoh:
Bangkitlah —- bangkitelah
Dwi warna—- dewi warna
Maju ———-Majut

Masih banyak cara lain yang bisa dilakukan. Dan, inilah tugas pemimpin paduan suara untuk mengeksplor dan menggarapnya.

6. Teknik Vokal Lainnya
a. Artikulasi : adalah teknik pengucapan agar ucapan yang terdengar lebih jelas. Teknik ini juga berkaitan dengan teknik lain seperti diksi dan pembentukan suara. Teknik artikulasi memperhatikan pada ucapan-icapan huruf hidup (vocal) dan huruf mati (konsonan)
b. Frasering : adalah teknik pemenggalan kalimat lagu. Teknik ini terkait juga dengan teknik pernafasan, dan interpretasi. Teknik ini penting karena salah mengiterpretasi, terutama dalam pemenggalan kalimat, akan mengurangi keindahan termasuk juga maknanya.
c. Intonasi : adalah teknik yang berhubungan dengan ketepatan nada (pitch). Ini sangat bersifat individu. Artinya, setiap anggota paduan suara harus memiliki kepekaan nada yang kuat sehingga mampu mengendalikan tinggi suaranya, dan tidak lagi terdengar nada-nada fals yang muncul saat penyajian. Satu orang terdengar fals maka rusaklah paduan suara itu. Jika banyak yang fals maka suara menjadi keruh. Penguasaan ini akan menjamin nada-nada fals pada grup itu. Sangat dianjurkan seluruh anggota paduan suara mampu membaca notasi musik. Latihan ini harus sering dilakukan, terutama saat vokalisi. Cara ini akan berguna baik yang sudah mampu membaca notasi maupun yang belum.
d. Vibrasi/vibrator : adalah teknik menggetarkan / mengalunkan nada atau mefluktuasikan nada yang dibunyikan. Pengolahan teknik ini harus sangat hati-hati. Penggunaan yang tak terkendali akan merusak penyajian paduan suara. Akan lebih baik jika sebagian saja yang menggunakan vibrasi. Itu pun dengan intensitas yang sedang saja, kecuali ia sebagai solis. Munculnya vibrasi pada suara manuasia dikarenakan sudah mapannya posisi alat-alat produksi suara, walaupun suara yang bervibrasi belum tentu ber kualitas terutama dalam vokal paduan suara. Vibrasi dapat dilatih sejak dini sehingga muncul vibrasi lebih awal juga.
e. Teknik Mendengarkan (listening) : istilah ini mungkin belum lazim yaitu teknik memperhatikan suara diri sendiri maupun suara di sekelilingnya. Simanungkalit menamakan istilah ini dengan kegiatan bernyanyi dengan telinga. Sebenarnya bernyanyi solo pun harus selalu mengontrol diri apakah suara yang terdengar cukup baik dari segi intonasi, artikulasi, keseimbangan dengan iringan, sampai pada ekspresinya. Namun, bernyanyi paduan suara yang terdiri dari banyak sumber suara menuntut lebih banyak kerena pencapaian blend dan balance suatu kewajiban jika ingin paduan suaranya padu dan utuh serta seimbang. Teknik ini untuk menjamin suara perindividu, setiap seksi suara, sampai seluruh peserta, mantap dari segi teknik dan pembawaan.
f. Pembawaan dan Interpretasi dan ekspresi : teknik ini cukup penting terutama berkaitan dengan bagaimana lagu itu dinyanyikan. Pesan lagu, karakter lagu, sampai pada bagian-bagian lagu (termasuk tanda-tanda ekspresi atau dinamik) harus bisa ditangkap oleh pelatih dengan baik. Tugas ini banyak dilakukan oleh pemimpin atau pelatih paduan suara. Penafsiran dan pengungkapan yang baik akan membawa penampilan paduan suara lebih baik pula. Pelatih harus bekerja keras untuk mencermati seluruh isi partitur lagu dan menerapkannya dalam paduan suaranya. Kegiatan ini bisa dilakukan secara bertahap mulai saat proses latihan sampai pada tahap penggosokan (finishing). Saat penggosokan ini sebenarnya memerlukan waktu latihan yang cukup banyak agar hasilnya mengagumkan. Banyak paduan suara yang akan tampil lomba hanya berhenti pada penguasaan notasi dan penafsiran yang belum cukup. Padahal, semakin digosok paduan suara yang sudah ”jadi” akan semakin ”kempling”. Akan terlihat dan dirasakan oleh peserta saat menyanyikannya terasa mantap, percaya diri dan menikmati, sedangkan yang melihat atau yang mendengarkan merasa terpesona dan terharu (termasuk jurinya) karena keindahan fisik maupun suaranya. Bisa diukur, jika saat anda mengajak orang lain untuk memperdengarkan atau menyaksikan paduan suara Anda kemudian dia merasakan biasa saja maka paduan suara Anda masih biasa saja, perlu proses tambahan yang harus dijalani lagi. Sebaliknya, jika yang menilai /yang mendengarkan merasa terkesan, maka paduan suara Anda saat menyanyikan lagu itu sudah bagus.
g. Memimpin lagu (conducting): adalah teknik memberi aba-aba saat lagu itu di sajikan. Tugas ini hanya diberikan pada pemimpin atau conductor atau dirigen. Namun demikian, tugas seorang konduktor sebenarnya sangat berat. Oleh karena itu sebaiknya pelatih sekaligus merangkap sebagai konduktor sehingga apa yang dikehendaki langsung disampaikan saat mulai latihan sampai saat tampil. Namun, ini sangat jarang. Seorang konduktor bisa bukan pelatihnya (dan ini yang umum) asal sudah dilibatkan mulai saat latihan. Saat finishing harus diserahkan sepenuhnya pada konduktor dengan pengawasan pelatih. Terlalu banyak campur tangan saat sudah taraf akhir finishing dari pelatih, apalagi berubah-rubahnya materi latihan (misalnya tentang interpretasi) maka pada saat-saat pementasan akan membingungkan konduktor dan peserta itu sendira.

G. Penutup
Banyak orang mengatakan musik paduan suara adalah musik sorgawi. Tentu jika si pendengar memiliki kemampuan menikmati jenis musik ini. Yang mampu merasakan keindahan harmonisasi suara dari paduan suara memang suatu kenikmatan tersendiri.
Pengelolaan paduan suara yang profesional sebenarnya cukup kompleks karena menyangkut teknik-teknik yang harus dikuasai, proses latihan yang lama sampai masalah sosial yang menyangkut peserta paduan suara sebagai mahluk individu yang memiliki sifat yang bermacam-macam dan kepentingan yang berbeda-beda pula. Paduan suara mahasiswa sangat berpotensi menjadi paduan suara yang profesional karena anggotanya memiliki kepentingan yang hampir sama (homogen), minat yang tinggi (tentu jika prekrutannya melalui prosedur tertentu yang ketat), dan SDM (tingkat inetelgensi) yang tinggi pula.

Referensi
Leimena, Catharina Wewengkang. 1994. ”Teknik Vokal Penunjang Nilai Artistik Suatu Paduan Suara” (Makalah Seminar Lokakarya Musik Gereja di Caringin, Bogor September 1994.

Pohan, R., Simanjuntak, A. 1994. ”Membentuk Suara Paduan Suara” Makalah Seminar Lokakarya Musik Gereja di Caringin, Bogor 1994.

Simanungkalit, Nortir. 2008. Teknik Vokal Paduan Suara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utma
Pier, Karl Edmund. 1986. Membina Paduan Suara. Yogyakarta: PML

Suharto.1993. ”Membina Paduan Suara di Sekolah” (makalah Penataran bagi Guru-guru Musik se- Jawa Tengah) di BPG Srondol – Semarang 1993.

Suharto.1997. ”Peran Ganda Dirigen sebagai Pemimipin dan Ilmuwan Paduan Suara” Artikel Ilmiah Jurnal Lingua Artistika. Semarang : IKIP Semarang Press.

Artikel ini telah disajikan dalam Workshop One Day Training Paduan Suara PsikologiUndip, November 2008

Perihal pakharto
Dilahirkan di Brebes Jawa Tengah Indonesia

Silakan isi komentar atau jawaban di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: