Masa Kecilku

Saya dilahirkan di sebuah desa kira-kira 4 Km arah selatan dari Kota Brebes, tepatnya Desa Sidamulya. Desa ini termasuk desa yang cukup makmur, seperti namanya, Sidamulya. Namun demikian, jaman saya lahir, seperti desa-desa lain di Indonesia desa kami masih sangat miskin. Waktu itu, menurut cerita ibu saya, pada bulan Oktober 1965 masih sangat panas-panasnya suasana politik negara. Para pengikut komunis di daerah kami sedang dikejar-kejar tentara Pak Harto. Nama saya yang semula bernama Suhirman kemudian diganti dengan Suharto. Karena saat itu nama suharto lagi berkibar, dan nama Suhirman adalah nama seorang yang sedang dicari-cari pengikut Suharto.

Jelas, saya tidak ingat banyak saat masa kecil sampai saya sekolah SD. Foto di bawah ini mungkin bisa membangkitkan ingatanku. Foto yang sudah berumur 30 tahun ini bisa bercerita banyak tentang latar belakang saya. Waktu itu saya sudah kelas 1 SMP dan adik saya yang pertama (Juwari) kelas 5 SD, Sis kelas 3 SD dan Sri mungkin kelas satu, karena hobinya nangis melulu. Lihat saja matanya bengkak karena habis nangis.

Yang bisa kuingat waktu itu Ayah seorang pegawai kecil di sebuah kantor kabupaten, Kantor Dinas P dan K, sedangkan Ibu hanya sebagai Ibu rumah tangga. Masa-masa sulit keluarga dialami sampai saya kelas 2 SMP. Sementara itu,  kami pun hidup dalam kesederhanaan. Beruntunglah ayahku seorang yang ulet. Lambat laun kerja keras ayah sebagai seorang petani berambang/ bawang merah mulai membawa hasil. Kemudian mengajukan pensiun dini pada usia 50 tahun, dan lebih berkonsentrasi sebagai petani. Sat saya kuliah adalah masa kemakmuran keluarga. Namun,  kemudian diikuti dengan masa kejatuhan keluarga, karena harta benda ayah terutama sawah banyak terjual saata ayah mencalonkan diri dalam pilkades yang akhirnya kalah.

Rasa sedih Ayah terobati setelah saya selesai kuliah dan mulai bekerja di Semarang. Dan, bersamaan dengan itu juga usaha Ayah yang lain mulai pulih. Ayah selalu mengajari agar kita selalu hidup sederhana, jujur, dan kerja keras.

Di antara kami berempat saya yang paling merasakan masa-masa sulit ekonomi keluarga. Saya pernah mengembala ternak waktu masih SD sampai kelas VI. Bekerja di sawah, bahkan memasak pun sudah biasa karena Ibu kadang seharian di sawah untuk bekerja. Saya masih ingat kata-kata Ayah dan ibu yang selalu berkata agar kita selalu berusaha keras untuk meraih cita-cita. Ayah ibu akan mati-matian untuk membiayai kemana pun kami berempat bersekolah. Cita-cita ayah adalah kami berempat harus kuliah sampai sarjana.

Jika kupandang foto-foto dengan wajah polos mereka rasanya trenyuh. Mereka telah tiada. Ayah hanya menyaksikan cucu pertama (Ajeng) dan menggendong sekali saat tengah berada di Manyaran Semarang, selanjutnya sang cucu dibawa ke Banyumas. Dan saat sang cucu berumur satu setengah tahun Beliau meninggal dunia. Tinggal Ibu yang kumiliki saat itu, padahal Sis dan Sri belum menikah. Tapi alhamdulillah, semua kami lewati dengan tanpa kendala berarti. Ibu juga seorang pekerja keras, jadi terbiasa dengan hidup mandiri, walau saya tahu Ibu sangat kesepian menjalani hidup sendiri tanpa ayah. Sejak meninggalnya Ayah tak pernah saya lihat keceriaan sejati dari Ibu, seperti yang sering saya jumpai ketika kami masih berkumpul. Sakit-sakitan yang sering diderita Ibu menunjukkan penderitaan itu. Sejak meninggal Ibu tak lagi terdengar alunan tembang keluar dari Ibu. Sewaktu kami masih berkumpul Ibu senang menyanyi lagu-lagu Jawa, seperti Jenang Gula, Lelo ledung, Buta-buta Galak, dll. Tembang itu terdengar sangat menyejukan hati jika Ibu yang nyanyi terutama saat-saat Ibu sedang melepaskan lelah sambil tiduran di ruang tamu tau di teras. Terasa damai sekali.

Yang masih tetap teringat dari Ayah adalah sifat sederhana dan kerja kerasnya, selalu menepati janji walau sekecil apa pun, selalu memberi harapan dan semangat dan memberi contoh pada anak-anaknya, dan sangat jujur. Kasih sayang ? Jelas, mungkin saya yang paling lama merasakan kasih sayangnya di antara kami berempat karena mungkin anak pertama. Dan, itu sangat saya rasakan. Bahkan dalam mimpi saya sampai sekarang Beliau sering muncul, seperti mengulang peristiwa masa lalu. Yang luar biasa dan masih kuingat adalah selama hidupnya Beliau tidak pernah marah pada saya. Sulit dipercaya tetapi itu kenyataannya. Saya sendiri tak bisa bersikap seperti itu. Walau pun tak pernah marah dan sabar tetapi saya tidak berani melanggar apalagi membantah apa yang dikatakan ayah.

Yang juga masih teringat adalah Beliau selalu membelikan apa yang saya minta, walaupun mungkin tertunda. Kadang saya sudah lupa, tetapi kemudian tiba-tiba ayah sudah membawa barang yang kuinginkan. Tentu saja permintaanku bukanlah hal-hal yang aneh. Cukup sederhana sebagaimana anak-anak pada usianya dan anak desa. Kata-kata yang sering diucapkan pada saya jika belum terkabul permintaanya adalah bersabar, semua yang dilakukan dan dimiliki orang tua hanyalah untuk keluarga, untuk anak. Waktu itu saya masih kecil tapi masih teringat terus. Kata-kata itu selalu beliau buktikan dalam kehidupannya.Tak pernah ingkar janji. Bahkan sampai saya dewasa. Menurutku,  Beliaulah orang tua yang paling baik di dunia yang aku kenal.

Bagaimana dengan ibu? Peran Ibu di rumah yang saya ingat tak jauh berbeda dengan Ayah. Walaupun sering marah, itu karena ingin supaya saya tidak gagal dalam menjalani kehidupannya. Mungkin sebagai penyeimbang ayah yang tidak pernah marah pada anak-anakanya. Kesalahanku sekaligus kenakalan terbesarku yang pernah dilakukan adalah memecahkan puluhan asbes, bahan bangunan yang akan digunakan untuk merenovasi gedung sekolahku, SMP I Brebes. Waktu itu Ibu marah besar karena saya diancam akan dikeluarkan jika tidak ganti rugi, padahal itu bukan semata-mata kesalahannku. Agak panjang ceritanya, mungkin lain kali. Waktu itu ayah hanya diam. Yang dipikirkan adalah bagaimana harus mengganti asbes yang pecah itu.

Menurutku mereka berdua adalah pasangan hebat dan bertanggung jawab. Kalau bapak tidak pernah marah pada saya, maka yang paling kuingat dari Ibu adalah Beliau tidak pernah menangis di depanku. Itulah sebabnya, saya sangat terkejut dan terharu saat saya menjenguk Ibu di kampung bercerita sambil menangis bahwa Ibu terjerat seorang lintah darat. Barang dagangan Ibu habis dihutang para pembeli, sehingga modal habis. Rupanya lintah darat jadi pilihan untuk menambah modal. Sambil menyetir menuju Semarang saya menangis membayangkan penderitaan Ibu dan diri saya yang juga belum mampu membantu banyak. Setelah bermusyawarah dengan Istri, tentu saja juga sambil meneteskan air mata, saya berpikir untuk membantu Ibu untuk menutup semua hutang-hutangnya pada lintah darat tadi, Walaupun harus berhutang juga.

Warisan yang telah saya dapat dari kedua orang tua adalah, seluruh kasih sayangnya, perhatiannya, tanggung jawabnya, teladannya. Semua itu bagiku tak ternilai harganya, tak bisa diganti dengan Apa pun. Berkat warisan-warisan itu kami sudah bisa mandiri sesuai denga keinginan kami. Adik saya, Juwari, sudah memenuhi keinginan Ayah yang tertunda, yaitu menjadi lurah di desa kami, bahkan sudah beberapa kali melanglang buana ke luar negeri, mewakili para petani Indonesia dalam Sidang FAO PBB di markasnya di Roma. Sis jadi guru PNS di Grobogan, dan Sri jadi Guru/PNS di SMA di Brebes. Saya yakin di alam sana Ayah Ibu sudah tersenyum melihat kami berempat. Saya selalu berdoa semoga mereka dipersatukan lagi di surga. Hidup aba  di di sana. Di sayang Allah, sama seperti mereka ikhlas menyayangi kami berempat. Amin. Ibu, lihatlah gambar di samping, dua cucumu, Bayu dan ajeng, sangat bahagia dan bangga padamu dan ayah, bila melihat foto bersamamu, dan mengingat cerita-cerita indah yang sering saya ceriterakan kepada anak-anak. Sudah saya ajari agar mereka sealu mengingat dan membanggakannmu.

Perihal pakharto
Dilahirkan di Brebes Jawa Tengah Indonesia

Silakan isi komentar atau jawaban di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: