Prita Mulyasari telah Menginspirasi Banyak Keluarga

Kasus Prita Mulyasari ini mengingatkan saya pada kejadian-kejadian yang telah menimpa saya dan keluarga saya. Walaupun tidak seheboh kasus Prita, dan kecil skalanya tetapi sempat membuat trauma beberapa anggota keluarga kami. Saya tidak akan berceritera kasus-kasus itu tetapi kejadian yang mungkin dianggap biasa dialami oleh para pasien, tetapi bagiku dan keluargaku itu sesuatu yang besar karena menyangkut nyawa keluarga. Bagi kami satu amggota keluarga sakit maka yang lain akan merasa sakit. Sehingga kami akan marah jika pelayanan Rumah sakit kurang menghargai perasaan itu. Pelayanan yang bagi kami kurang profesional di RS yang sering kami alami, misalnya :

1. Kadang, dokter terlalu lama mendiagnosis jenis penyakit, sehingga obat yang diberikan kadang gonta-ganti.
2. Dokter kadang menentukan penyakitnnya dulu (salah diagnosis awal) sebelum dites lab, dan langsung diberi obat hasil diagnosis yang salah itu. Jadi terpaksa kami harus berlama-lama menderita.
3. Kadang ada dokter yang selalu mengarahkan kepada pasien agar membeli obat ke apotik yang dimiliki oleh dokter pembuat resep tersebut. Kasihan penunggu pasien yang sudah ibu-ibu harus mengojek ke apotek sesuai dengan resep tersebut. Sangat tidak masuk akal obat yang sederhana tidak ada/ tersedia di apotik RS tersebut. Saya alami sendiri waktu merawat Ibu di rumah sakit ibu.
3. Ada perbedaan pelayanan yang sangat menyolok antara kelas yang satu dengan yang lain, terutama dari segi kemanusiaan.

Pelayanan akan sangat ramah, semua dokter, perawat selalu senyum, menyapa dengan ramah, dst jika kita dirawat di kelas paviliun. Tetapi jika kami masuk di kelas di bawahnya, apa lagi di kelas 1 atau 2. Tak bisa dibayangkan jika masuk di kelas 3. Hampir tidak manusiawi. Saya menyesal pada Ayah Ibu (almarhum ) karena tidak bisa merawat mereka dikelas yang nyaman waktu dirawat beberapa kali di RS, sehingga saat itu sering marah-marah pada suster dan dokternnya. Dalam hati memang menangis tetapi kami tak berdaya menanggung biaya yang begitu besar jika harus dirawat di kelas setinggi itu. Tetapi Kami pun menyerah akhirnya di hari-hari terakhirnya kami masukan beberapa dikelas yang cukup nyaman. Semoga Mereka mengampuni kami anak-anaknya. Ayah divonis sakit kanker paru-paru setelah dirawat selama sebulan lebih di dua rumah sakit dan meninggal sebulan kemudian di rumah sakit yang sama (maaf tidak saya sebutkan nama rumah sakitnya). Sementara ibu meninggal sepuluh tahun kemudian setelah menderita sakit serius selama tiga tahun lebih. Beberapa rumah sakit di daerah dan di kota propinsi bolak-balik di masukinya. Hanya satu rumah sakit yang tidak mau dimasukinya, yaitu rumah sakit yang dulu merawat Ayah. Sangat dimaklumi jika Ibu trauma memasuki rumah sakit itu. Karena punya kenangan buruk merawat ayah selama 2 bulan.

Kami memang menerima hasil diagnosis dan konsekwensi dari penyakit serius itu. Pelajaran yang kami terima cukup banyak dari peristiwa-peristiwa itu. Yang paling berkesan adalah pelajaran cinta, terutama cinta keluarga. Kami merasakan betapa besar cinta Ayah pada Ibu dan sebaliknya. Dahulu (sebelum Ayah meninggal) Ibu adalah seorang yang sangat tegar, kuat yang selalu bahu membahu dengan ayah memperjuangkan anak-anaknya menjadi orang yang yang berguna bagi dirinya, masyarakat dan bangsanya. Namun, begitu ditinggal Ayah semangat itu kian menyusut terutama setelah anak yang paling kecil sudah mandiri dan berhasil. Semangat hidup dan kesehatannya terus menurun seolah-olah mengatakan “tugasku sudah selesai biarkan aku menyusul ayahmu, anak-anakku”.

Kembali ke masalah kasus Prita. Saya yakin yang mengalami perlakuan seperti dialami Prita dalam pelayanan RS cukup banyak. Bisa karena kelalaian RS bahkan mungkin disengaja untuk tujuan tertentu. Tetapi tujuan Prita cukup baik dengan sharing ke teman-temannya melalui millis agar kejadian serupa tidak terulang pada pada orang lain. Saya sangat setuju. Dan tujuan itu sekarang sudah tercapai. Paling tidak sekarang RS sudah berhati-hati dalam menangani nyawa manusia.

Sekarang tugas kita adalah bagaimana ikut mendukung dan menyelamatkan sang pahlawan ini dari kesewenang-wenangan hukum ini. Dari beberapa berita, termasuk pendapat Jaksa Agung, dan Polri, menunjukkan arah yang tidak wajar dan kesewenag-wenangan tersebut. Bisa tidak sengaja karena tidak mengerti menafsirkan UU atau sebaliknya, by disigned. Bisa ada permainan antara kejaksaan dengan RS tersebut. Ini yang seharusnya diselidiki dahulu. Atau paling tidak disinggung dalam persidangan.

Permainan hukum di dunia peradilan bukankah sudah biasa di negeri ini ? Para penegak hukum yang tahu hukum kadang tidak menyadari bahwa masyarakat juga banyak yang melek hukum. Mereka akan berteriak termasuk lewat email. Sangat lucu jika ada orang curhat dengan teman-temannya di elmail kok dipenjara. Sudah bukan jamannya lagi. Di jaman Orba memang bisa tetapi sekarang ? Apakah kita akan mundur lagi ?

Yang pertama harus kita desak pada penegak hukum adalah substansi dari isi surat itu. Apa ada kebenarannya ? Harus dibuktikan. Jika ada kebenarannya maka Prita harus menuntut balik. Tuntutlah yang lebih besar bila perlu dua kali dari nilai aset RS tersebut. Kemudian, selediki aparat yang terlibat dalam penuntutan, apakah ada penyimpangan atau tidak.

Maaf, saya cukup emisional. Saya bisa merasakan perasaan Prita. Perasaan cintanya pada keluarga, perasaan kepada sesama agar tidak mengalami penderitaan yang dialaminya. Bukankan ini sesuatu yang mulia. Kita mesti tergugah maksud baik ini.

Mari kita perhatikan sekali lagi isi surat Prita. Silakan cermati apakah ini wajar atau fitnah. Selanjuitnya terserah Anda.

Jakarta – Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB.
Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa.
Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi.
Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur da
n baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.

Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima.

Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H.

Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut?

Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600


Perihal Bu Ambar
Sri Ambarwangi, S.Pd adalah guru Seni Budaya SMK 1 Pringapus Kabupaten Semarang. Media Web Blog ini adalah sebagai sarana pembelajaran bagi siswa SMK1 Pringapus khususnya mata pelajaran Seni Budaya.

Silakan isi komentar atau jawaban di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: