SBY Presiden Pilihan Keluarga Indonesia

Sudah saya duga sebelumya SBY akan terpilih dalam Pilpres 2009. Walaupun saat saya posting tulis ini masih sementara (berdasarkan quick qount SBY meraih 60 % dan lebih dari 20 propinsi yang mendapat 20 %).

Saya tentu tidak akan mengulas seperti halnya para pengamat politik. Saya akan memandang dari sudut keluarga saja. Seperti pada tulisan saya terdahulu di bl0g saya ini, SBY adalah seorang ahli strategi. SBY tahu siapa pemilih terbanyak nanti, dan bagaimana karakter masyarakat kita. SBY pinter memanage situasi dan karakter tersebut. Pencitraan adalah penting, bukan program-program semata. Dan, dia sudah persiapkan jauh-jauh hari. Sebagus apa pun program yang ditonjolkan oleh lawan politiknya tidak akan mengalahkan citra SBY di mata Masyarakat Indonesia pada umumnya. Hanya sebagian kecil masyarakat kita yang memilih berdasarkan program capres (pengamat menyebutnya pemilih rasional). Apakah pemilih SBY tidak rasional ? Belum tentu. Pemilih SBY juga bisa disebut rasional. Mereka berdalih lebih baik memilih yang pasti dan jelas dari pada memilih calon lain yang belum terbukti keberhasilannya. Iklan “Cap Lang” bilang “negara kok untuk coba-coba”. Barangkali begitu perasaan pemilih SBY.



Masyarakat kita sebagian adalah masyarakat melankolis, oleh karena senang dengan drama/sinetron yang melankolis. Anehnya, itu dibawa ke dunia nyata. Masyarakat menyukai kedamaian, keharmonisan dan kesantunan oleh karena, itu mereka menyukai capres yang keluarganya dianggap harmonis, bahagia, dan tak ada gejolak. Masyarakat kita menjunjung tinggi norma dan sopan-santun karena kita memang orang timur bukan orang Barat yang blak-blakan dalam bicara sehingga mereka memilih capres yang dianggap berkarakter sopan, dan tidak suka dengan orang yang dianggap memiliki rasa dendam dan pemarah, lihat lah saat kampanye. Masyarakat kita yang santun dan religius tidak suka dengan orang yang suka menjelek-jelekan orang lain walaupun menurut dia hanya sebatas kritik. Bisa dipahami, kita memang berbeda dengan Barat, sehingga budaya berdemokrasinya juga berbeda. Kita tetap berdiri dan berakar di budaya Timur, Indonesia. Dan yang terakhir, yang mungkin manusiawi adalah masyarakat kita adalah yang menyukai keindahan, kecantikan, dan ketampanan sehingga salah satu pertimbangan memilih adalah siapa-siapa yang memiliki fisik yang dianggap mereka para pemilih ideal. Mungkin SBY yang dianggap, mewakili keinginan mereka yaitu berbadan tegap, ganteng, sopan, pantas menjadi orang yang diidolakan dan dibanggakan, persis dalam cerita-cerita dongeng bahwa seorang pangeran atau raja adalah yang gagah dan berwibawa atau seorang putri atau ratu harus cantik. Jangan lupa orang Jawa pun masih berpandangan seperti itu.
Harus saya akui bahwa SBY ahli strategi dan memahami betul karakter masarakat dan budaya kita pada umumnya dan bisa mengimplementasikan dan mengelolanya dengan  baik. Lihatlah kampanyenya banyak juga yang berkampanye tentang keluarganya seolah bertolak belakang dengan Prabowo yang tidak utuh keluarganya atau (mungkin) Megawati. Tidak banyak kampanye SBY di TV yang menyerang lawan politiknkya. Berbeda dengan semua iklan politik capres lain semua mengkritik SBY. Lengkaplah kesan SBY yang benar-benar “dikroyok” termasuk  Butet. Jangan lupa, sekali lagi, para penonton sinetron akan selalu bersimpati kepada orang yang teraniaya. SBY selalu sadar itu dan lawan politiknya tidak sadar-sadar sampai hari terakhir pencontrengan walaupun banyak pengamat politik telah mengingatkannya. Untuk budaya Barat itu sangat lumrah mengritik dengan cara Bara, tetapi di Indonesia tidak berlaku. Harus dengan cara khas Indonesia. Capres mendatang harus banyak belajar kepada ahli soiologi dan psikologi masa jika ingin memenangkan pertarungan. Saya juga kadang geli menyaksikan permainan cantik SBY yang tidak ditanggapi serius oleh capres lain. Malah perlawanannya semakin gencar misalnya masalah pilpres satu putaran. Hanya JK yang menanggapi dengan sangat baik. Tetapi Megawati menanggapi dengan sangat emosional, terlihat jelas di TV yang berulang-ulang diputar di Metro TV. Lagi-lagi Masyarakat kita tidak suka pemimpin yang terlalu emosional terlihat jelas di depan umum. Barangkali orang yang bertemperamen Soeharto yang disukai. Tidak terlihat marah jika sedang marah.
Lepas dari kekurangan para capres ada sisi positif dan perlu diacungkan jempol kepada semua capres termasuk Megawati dan JK. Megawati telah menunjukkan tanggung jawabnya sebagai pemimpin partai yang telah menuhi amanat partainya untuk tetap maju walaupun banyak pengamat dan polling-polling menunjukkan elektabilitasnya rendah. Tanpa keikutsertaan Megawati mungkin tidak ada Pilpres tanggal 8 Juli. Demikian juga dengan JK. Saya memuji kehebatan JK dalam berdebat. Terlihat lebih unggul dari capres lainnya. Namun sekali lagi, masyarakat kita tidak semua mengerti makna debat itu. Sehebat apapun seolah tak ada artinya bagi para pemilih. Justru malah kontra produktif. Mungkin gara-gara debat itu malah simpati masyarakat pada umumnya kurang baik kepada JK. JK bisa dianggap tidak sopan karena menjelek-jelekkan /menyerang atasannya sendiri, membuka aib SBY, tidak elok, dst. Masyarakat yang bersimpati dengan SBY bisa sangat risih bahkan bisa marah. Yang belum memiliki pilihan dan berbudaya melankolis bisa menjatuhkan pilihan ke SBY. Lihatlah perolehan suara JK-Win, jeblok. Lalu pada kemana para pemilih Golkar dan Hanura yang dalam legislatif mencapai 20 persen ? Yang pasti pada lari ke SBY atau Megawati. Namun, sikap-sikap seperti itu (JK) memang sangat penting dalam iklim demokrasi mendatang. Mungkin saat ini belum waktunya, perlu ada pembelajaran politik bagi seluruh lapisan masyarakat secara terus menerus.

Saya sendiri sangat senang dengan proses pilpres ini karena secara umum berjalan sangat baik walaupun masih ada kendala, seperti DPT. Sebagai masyarakat kecil memang tidak suka ribut-ribut. Segala pelanggaran memang harus diproses hukum. Namun, akan lebih baik disikapi lawan politik secara elegan tanpa konfrontasi yang berlebihan. Sikap JK dengan mengucapkan selamat kepada SBY dianggap cukup realistis. Sebaliknya sikap Prabowo dianggap sangat konfrontatif walaupun itu sangat wajar. Seandanya Prabowo memiliki sikap seperti SBY akan sangat terbuka bagi Prabowo untuk menjadi the next president, 2014. Bersiaplah mulai hari ini, pelajari karakter masyarakat Indonesia, cobalah pahami seolah menjadi masyarakat biasa yang hidup di segala strata dan lingkungan. Salah satu kesalahan Mega- Prabowo selalu membidik masyarakat kecil, atau wong cilik saja. Masyarakat kita banyak lapisan dan golongan serta budayanya.Tidak semua masyarakat senang disebut wong cilik. Tentu lebih senang disebut orang yang cukup sejahtera. Celakanya banyak orang cilik yang bersimpati ke SBY karena mereka yang sekarang merasakan langsung nikmatnya BLT. Jadi bisa jadi pemilih Mega Pro adalah para melilih terdidik dan yang rasional. Tetapi berapa jumalh mereka. Yang terakhir, mungkin ini saran yang cukup pribadi sebaiknya Prabowo sekarang memikirkan mencari pasangan hidup, agar masyarakat memandang Prabowo adalah sosok keluarga yang harmonis. Akan menjadi kejutan besar dan mungkin baik jika Prabowo kembali ke Mba Titik. Ah nglantur saja saya ini. Eh… siapa tahu….

 

 

 

Perihal Bu Ambar
Sri Ambarwangi, S.Pd adalah guru Seni Budaya SMK 1 Pringapus Kabupaten Semarang. Media Web Blog ini adalah sebagai sarana pembelajaran bagi siswa SMK1 Pringapus khususnya mata pelajaran Seni Budaya.

2 Responses to SBY Presiden Pilihan Keluarga Indonesia

  1. romailprincipe mengatakan:

    Prabowo balikan ama mba titik?
    wah seru tuh..gosip itu dari intelijen mana?
    lebih seru dari SBY yang menyangka orang di masa lalu menghilangkan orang tetap lolos dari jeratan hukum, dst, dsb…
    Tendesius sekali presidenku..

    • catatanpakharto mengatakan:

      Saya juga menyayangkan SBY bersikap seperti itu. Mungkin terlalu buru-buru menembak seseorang seolah2 dia yang melakukan.. Kenapa menjadi sangat emosional, rakyatnya nanti bisa jadi resah. Tapi saya yakin masyarakat kita sudah dewasa sekarang. Sudah biasa hidup berdampingan dengan ledakan bom.
      Prabowo balik ke Titik, why not ? Eh… apa sama Manohara saja ya kan dia cantik dan Prabowo Gagah, bisa jadi pasangan hebat kaya raja dan ratu, persisis dongeng di film boneka Barby dan kita jagokan untuk capres 2014, he… he.. Eh jangan …Manohara belum teruji kredibelitasnya, kasihan nanti Prabowo. Tapi memang aku suka gaya Prabowo kok, programnya bagus, pantas jadi presiden mendatang menggantikan SBY nanti di 2014. Kalau yang ini bukan dari intelejen manapun tetapi dari gosip jalanan ha.. haa… Bisa kta elus-elus biar nanti menang 2014.

Silakan isi komentar atau jawaban di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: