MENYAKSIKAN REALITY SHOW SIDANG PANSUS ANGKET CENTURY YANG MEMUAKAN

Semula saya tertarik untuk menyaksikan. Awal-awalnya memang menarik karena ini baru bertama kali sidang ini bersifat terbuka dan disiarkan langsung. Namun, akhir-akhir ini tontonan yang tadinya saya anggap menarik berubah menjadi membosankan dan memuakan. Tidak ada yang saya harapkan karena tidak lebih dari reality show yang ada di TV – TV swasta. Bahkan, reality show yang di TV lebih menarik karena materinya ada alurnya. Yang di sidang Pansus ini ceritanya berulang-ulang, muter-muter sehingga membosankan, karena penontonya sudah tahu tetapi pemainnya mengulang adegan melalui pertanyaan-pertanyaan yang diulang-ulang. Menjadi muak karena cara bicaranya yang tidak sesuai dengan konteksnya, hanya menuruti hawa nafsunya, lari dari tujuan atau skenario utama yaitu mencari jawaban apa tujuan sidang itu. Atau memang tujuannya lain seperti yang dituduhkan beberapa pihak?

Saya masih bingung juga sebenarnya sidang pansus angket ini apa sih ? Apa ini pengadilan shingga ada istilah saksi. Kanapa saksi diperlakukan seperti seorang penjahat yang sudah divonis bersalah sehingga boleh dibentak-bentak, dipotong pembicaraannya seolah tak punya hak bicara yang punya hanya penanya ? Bahkan di persidangan pengadilan pun seorang saksi boleh menolak untuk tidak bicara jika tidak mau. Perlakukan peserta pansus sama seperti proses intograsi polisi (jaman dulu) pada penjahat saat diintograsi yang harus mengaku sesuai kemauan polisi jika polisi tidak mengetahui motifnya. Dalam sidang di pengadilan akan lebih ringan karena si terdakwa hanya diberi pertanyaan oleh beberapa orang saya . Sebaliknya, di pansus angket yang hakimnya puluhan orang yang semuanya tidak ramah. Bagaimana tidak ? Sangat terlihat banyak raut muka penanya yang tergambar jelas ada rasa kebencian dan rasa ingin balas dendam. Orang yang ahli bidang psikologi sangat tahu itu ? Bahkan bisa menebak dengan mudah bagaimana perasaan si penanya itu. Bahkan saya orang awam pun dapat menafsirkan dengan mudah apa sebenarnya yang ada di benak penanya ini ? Si penanya tidak hanya bertanya tetapi menjebak, bahkan bertanya yang tidak butuh jawabannya karena begitu dijawab langsung dipotong. Hal ini karena memang si penanya tidak butuh jawaban dan jawabannya sudah ada dalam benak penanya ? Jika demikian, memang yang dibutuhkan penanya hanyalah pembenaran tuduhan yang sudah dipersepsikan penanya. Sebelum bertanya penanya sudah berpersepsi bahwa aksi ini sudah salah. Itulah sebabnya muka penanya ini sudah sinis dan terlihat orang yang sedang marah. Dugaan saya ini mendekati benar. Para anggota pansus ini sudah tidak adil bersikap yang terkesan tebang pilih. Saksi yang dipersepsikan tidak bersalah diperlakukan santun misalnya Yusuf Kalla. Sebagian besar mereka bersikap santun dan bernada lembut kecuali anggota dari Partai Demokrat. Lebih aneh lagi, sesama anggota Pansus bertengkar sendiri ? Lalu saksi ini mau bersaksi kepada siapa ? Karena ada kelompok anggota pansus tidak kompak. Benar-benar dagelan tidak lucu, malu saya menontonya ? Kok begini wakil-wakil kita.

Saya mendukung diadakan hak angket kasus bank Century ini sampai tuntas. Tetapi, apakah dengan cara seperti ini. Apakah ini benar cara-cara seperti ini yang sesuai dengan demokrasi yang kita anut ? Sebagian besar para penanya dalam sidang itu dalam keadaan emosi. Tidak ada hasil yang memuaskan jika orang berbicara dalam keadaan emosi. Jika yang ditekankan adalah substansinya maka tidak ada perlakuan yang berbeda pada saksi karena yang ditekankan tentang kebijakan-kebijakannya, mengapa kebijakan itu dilakukan, siapa yang melakukan dan apa alasannya. Kemudian, jika sudah ketemu baru disikapi secara politis maupun hukum yang berlaku. Namun, dalam pansus angket ini yang dikejar-kejar pribadinya. Sayangnya, anggota pansus ini tidak menghargai saksi sebagai manusia yang memiliki perasaan, sehingga hanya memandang orang dari sudut dirinya sendiri. Tidak membayangkan bagaimana perasaan yang ditanya yang katanya sebagai saksi yang sudah bersalah. Bahkan dalam pengadilan seorang saksi belum tentu bersalah. Bahkan terdakwa pun belum tentu bersalah. Anggota pansus juga harus membayangkan bahwa perlakuannya ditonton jutaan orang secara langsung tanpa sensor sedikit pun. Pertunjukan reality show ini sebenarnya bentuk kekerasan luar biasa. Kekerasan psikologis ini lebih dahsyat efeknya bagi penonton.Sayangnya efeknya jelek. Pertunjukan ini juga menjadi pertunjukan aneh bagi anak-anak sekolah yang sedang belajar demokrasi. Mereka bisa menafsirkan bahwa inilah yang dimaksud demokrasi ? Jelas ini bisa merusak tatanan demokrasi kita ? Yang diajarkan di sekolah adalah bahwa sidang hak angket bersifat tertutup, kenapa menjadi terbuka dan penuh pertengkaran ? Sulit saya menerangkan anak saya yang masih di kelas 4 SD yang kebetulan menonton dan bolak-balik bertanya hal ini ? Anak saya sangat tertarik karena wakil presiden yang dikenalnya kok dimarah-marahin dan dikecam di depan umum, semua rakyat menontonnya. Mestinya KPI mengingatkan ini karena ditayangkan seharian dari pagi sampai malam dan semua orang boleh menontonnya. Menurut saya ini sebuah pertunjukan kekerasan, kekerasan psikologis.

Walaupun saksi Boediono dijadikan saksi sebagai mantan Kepala BI, tetapi bagaimanapun tidak bisa diingkari bahwa dia adalah wakil presiden yang sedang menjabat, sebuah simbol negara yang harus kita hormati kita jaga. Mengapa dipermalukan di depan rakyatnya yang telah memilih. Bagaimana perasaan mereka ? Saya yakin masih banyak pemilih yang mencintai walaupun mungkin bersalah atau tidak. Ada orang bilang cinta itu buta. Bagaimana sikap orang yang mencintai seseorang jika yang dicintai diperlakukan menurut mereka tidak manusiawi ? Sampai saat ini saya masih yakin SBY menang pilpres karena sifat masyarakat kita yang masih melankolis. Mereka memilihj dengan perasaan. SBY sangat tahu itu tetapi lawan politiknya tidak mudeng-mudeng tidak belajar dari Pilpres sebelumnya (2004). Masih saja memperlakukan SBY seolah-olah ia dizalimi, dikroyok, dan sebagainya. Jangan sampai sikap rakyat menjadi berbalik ke anggota pansus. Hal ini tidak mustakhil.
Jika ingin sidang pansus ini berjalan selamat sampai akhir sebaiknya caranya diperbaiki lebih elegan dan manusiawi. Lebih menghargai sifat sebagian masyarakat kita yang masih menyukai kesantunan, menjunjung martabat dan hak azasi manusia. Walaupun ada pengamat politik yang berpendapat bahwa sidang ini hanyalah balas dendam dari pihak dari yang kalah pemilu kepada yang menang pemilu,sebainya jangan ditunjukan dengan sikap dan cara bertanya yang tidak bisa disembunyikan dari raut muka, nada, dan materinya dalam sidang itu. Jangan sampai anggota pansus kehabisan materi bertanya sehingga pertanyaan jadi muter-muter saja. Kesannya si penanya hanya cari-cari alasan dan kehabisan kata-kata sehingga berubah menjadi orang marah, hanya nada tinggi dan muka marah yang terlihat. Rakyat yang menonton pinter-pinter bisa menebak dan membaca dari raut muka yang terlihat close up di layar televisi.

Perihal Bu Ambar
Sri Ambarwangi, S.Pd adalah guru Seni Budaya SMK 1 Pringapus Kabupaten Semarang. Media Web Blog ini adalah sebagai sarana pembelajaran bagi siswa SMK1 Pringapus khususnya mata pelajaran Seni Budaya.

2 Responses to MENYAKSIKAN REALITY SHOW SIDANG PANSUS ANGKET CENTURY YANG MEMUAKAN

  1. miphz mengatakan:

    Istri : “CAR uang belanja kita sudah minus nih”
    Suami : “Hah!? Maksudnya?”
    Istri : “Iya, pengennya sih di-bailout, lihat aja sendiri kulkas kita udah hampir insolvent”

    Mari rehat sejenak.😉

  2. catatanpakharto mengatakan:

    Saya harap pansus ini segera selesai dan tuntas, tidak ada gejolak yang bikin rakyat jadi tambah sengsara, tidak tahu apa yang terjadi, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Segeralah simpulkan dan selesaikan secara hukum atau undang-undang yang berlaku.

Silakan isi komentar atau jawaban di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: