SBY DAN KERBAU

                                              Begitu geramkah pendemo kepada SBY sehingga memutuskan untuk menyimbulkan SBY dengan seekor kerbau. Mungkin sudah kehabisan akal mereka karena semua cara yang telah disampaikan menurut mereka tidak didengar.

Masalah Demo Kerbau menjadi polemik berkepanjangan di media masa setelah SBY “curhat” dalam rakernas dengan gubernur seluruh Indonesia. Banyak kalangan tidak sutuju mengapa SBY harus curhat atau menyampaikan sendiri pada rakyat. Kenapa tidak menyuruh bawahannya saja yang menyampaikan agar tidak menurunkan kewibawaan. Namun demikian, barangkali ini cara yang tepat bagi SBY agar “curhatnya” juga didengar rakyat.

Pernyataan-pernyataam SBY di forum seperti itu memang kebiasaannya. Ia yang selalu meyelipkan isu-isu hangat dalam acara-acara resmi. Kenyataan ini sangat ampuh dalam mendapatkan simpati sekaligus kecaman, tergantung dari sudut mana mereka memandangnya. Bagi lawan politiknya (tentunya juga termasuk rakyat) ini menjadi lahan tembak untuk mengalihkan sebagai kelemahan SBY yang selalu curhat dan berkeluh kesah. Bagi pendukungnya yang “cinta setengah mati” menjadi senjata ampuh bagi SBY untuk menambah dukungan terutama dukungan moril. Sudah terbukti dukungan ini sangat dahsyat dan telah mengantarkan SBY menjadi presiden kedua kalinya. Sehingga, bukan tidak mungkin rakyat pendukungnya pun akan beramai-ramai membela jika yang dicintainya dihina dan dicaci maki. Namun, belum ada bukti bahwa rakyat tersebut telah beraksi membela secara nyata. Memang ada di sela-sela demonstrasi akhir- akhir ini beberapa demonstran yang menamakan Pendukung SBY ikut ambil bagian. Namun belum tahu persis siapa mereka, apa mereka benar-benar pendukung SBY atau masa lain yang diciptakan sebagai masa tandingan.

Jika ada masa yang benar-benar pendukung SBY yang ikut berdemo justru menjadi berbahaya bagi demokrasi kita dan kegiatan-kegiatan demo selanjutnya. Apalagi SBY sudah berkeluh kesah di media yang berakibat meningkatnya reaksi pendukung SBY. Menjadi berbahaya karena akan memicu terjadinya konflik horizontal di antara rakyat sendiri. Jika semakin besar konfliknya akan terjadi pula bentrokan secara pisik. Akibatnya… aduh sulit membayangkannya…

Kembali ke masalah demo kerbau. Jika kita cermati isi “keluhan” SBY saat menyampaikan masalah demo itu, sebenarnya yang ditekankan adalah ‘cara berdemo’ yang dianggap kurang etis yang melanggar norma-norma kesopanan dan hukum. Dia juga bicara masalah peradaban. Sudah menjadi tugas kepala negara untuk menjaga peradaban agar tidak rusak. Namun, hal ini kemudian menjadi polemik karena yang menyampaikan seorang presiden. Walaupun sebenarnya juga wajar seorang presiden yang juga seorang manusia tidak bisa menyembunyikan kodratnya itu. Apalagi ia adalah orang Jawa yang tahu persis apa arti simbol kerbau itu. Di budaya Jawa kerbau disimbolkan sebagai makhluk bodoh, dungu. Banyak ungkapan-ungkapan Jawa termasuk mungkin di budaya daerah lain, yang berhubungan dengan kerbau yang semuanya bermakna negatif. Misalnya, “seperti kerbau dicocok hidungnya” artinya orang bodoh yang selalu menurut siapa yang menyuruhnya, “Plonga-plongo kaya kebau” artinya orang yang selalu bingung karena bodohnya. Yang terkenal adalah pribahasa “Ana kebau nusu gudel” artinya orang yang sudah tua besar tetapi bodoh masih mau belajar sama yang masih muda. Namun, sekali lagi yang jadi masalah para pengamat adalah mestinya jangan di sampaikan langsung oleh seorang presiden agar tidak menurunkan wibawanya.

Pendemo yang membawa kerbau ini ternyata berhasil karena mendapat perhatian luar biasa dari presiden dan masyarakat luas. Efek demo ini sangat luar biasa. Jika dalam berperang ini mungkin senjata kimia yang mematikan yang membunuh banyak orang. Pendemo ini tidak peduli bahwa presiden adalah simbol negara yang perlu dihormati warga negaranya. Sama dengan simbol-simbol negara lain seperti bendera, lagu kebangsaan, lambang negara Burung Garuda, gambar wakil presiden, dan sebagainya. Dia tahu bahwa orang Jawa atau suku lain jika disamakan dengan kerbau akan marah setengah mati. Sehingga jika SBY melihat sendiri ada kerbau bertuliskan SBY dan ada gambar SBY di pantat kerbau itu akan marah sekali. orang yang tidak marah berarti tidak normal karena itu. Apalagi, ada urusan dengan pantat. Apa arti simbol kata atau gambar pantat bagi budaya-budaya seluruh dunia ? Sebagaian besar bermakna negatif. Bisa bermakna sangat jorok, porno, dll.

Saya hanya kuatir kebiasaan demo-demo seperti ini menjadi kebiasaan kita sehingga lama-lama menjadi budaya untuk menyampaikan pendapat, sehingga kita akan dijuluki oleh bangsa lain manusia tak beradab. Kita sudah mendapat julukan itu dari luar saat ada kejadian Bom Bali 1. Kita tidak akan dihargai bangsa lain karena rakyatnya sendiri tidak mengargai simbol-simbol negara yang dibuat sendiri, bagaimana bangsa lain akan menghormati.

Maksud baik kita untuk menjadikan demo ini bagian dari demokrasi jangan manjadi kontra produktif. Masalah-masalah utama yang kita dengungkan malah tenggelam. Seharusnya kita dorong terus Pansus Century agar segera mendapatkan kesimpulan yang jelas dan mendapatkan hasilnya sehingga masalah segera selasai. Di samping itu kita juga dorong KPK segera menyelesaikan kewajibannya menuntaskan masalah ini agar segera diketahui apa yang dituntut masyarakat kita selama ini.

Berdemolah untuk terus mengkritisi dengan demo yang elegan, disenangi seluruh masyarakat, diperhatikan yang didemo tanpa emosi sehingga segera ditindaklanjuti. Kalau bisa bantu juga pemerintah untuk mencarai solusi karena mungkin Anda yang tahu solusinya, sedangkan pemerintah belum menemukannya. Negeri ini milik kita, bukan milik golongan, milik SBY, bukan milik oposisi. Mari kita pelihara, kita jaga, jangan kotori dengan kata-kata kotor, jangan nodai simbol-simbol kita sendiri walau semarah apa pun. Carilah cara yang lain agar kita jangan kotor karena caranya yang kotor. Kawalah agar semua proses demokrasi ini berjalan cantik, elegan, dan konstitusional, agar tidak berefek domina yang selalu saling menjatuhkan karena balas dendam. Saya masih ingat kata-kata salah seorang ulama, “air kotor yang keluar biasanya berasal dari ceret yang kotor”.

Perihal pakharto
Dilahirkan di Brebes Jawa Tengah Indonesia

Silakan isi komentar atau jawaban di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: