Yang Selalu Ku Renungkan (2)

Ini kah tempat pengabdianku  yang terakhir

‘Tuk abdikan  asaku yang masih tersisa

setelah  dua tahun  nasibku  menggantung seolah tak berujung

Di SMP Satu cinta kami telah menyatu

di sana anak-anakku menghargai segala upayaku

aku pun begitu  terharu, betapa aku terus terpaku

Tak percaya ini akan menimpaku

Betapa bodohnya aku selalu mengharap

karena akhirnya aku terdepak

Walau semua syarat telah tersurat

Tetap saja berkas itu hilang atau rusak karena mungkin  lama berkarat

Di bawah meja  pejabat yang selalu banyak rapat

tak peduli ku menunggu bertahun-tahun tak ada kawat

Sungguh aneh dan ganjil setelah hampir dua tahun ku kumpulkan

ku harus kumpulkan lagi berkas itu karena hilang

hilang ?

ya, hilang, atau  dihilangkan ?

Jika benar hilang,  begitu penting dan berhaga kah

hingga ada orang yang mau mencurinya ?

untuk apa?

atau ketidakprofesionalan mereka ?

Lalu, apakah aku tak boleh menuntut karena  hal ini ?

Begitu hinanya aku

setelah puluhan tahun ku mengabdi

Harus mengalah dengan yang datang pagi tadi

mungkin  dia  pangeran yang harus menduduki singgasana

hingga aku pun harus menurut apa yang dikatakan Sang Baginda

walaupun  mungkin aku bisa mati karena menderita

karna merasa terbuang bagai tak berharga

Tak ada penghargaan lagi  selama ku  berasa

Tak bolehkan aku bermimpi menikmati sisa-sisa pengabdianku

Memberi ketenangan pada keluarga

Yang merasa iba dan kuatir  karena sudah puluhan tahun harus mengayuh

korbankan waktu  keluarga tuk bergegas setelah subuh

berpeluh-peluh,  sama seperti sepasukan buruh

Karena mengejar kelas yang  begitu jauh

Kini impianku pun  buyar sudah karena aku kembali ke tempat yang jauh

Mungkin benar kata orang-orang

Aku menghadapi tembok besar

tembok kekuasaaan yang penuh aroma tak segar

tapi aku tak percaya ini terjadi padaku

Sungguh aku tak berdaya

Aku pun tak mau menuruti apa kata orang-orang

untuk menggugat ketidakadilan ini

Apakah aku harus pasrah sampai akhir nanti?

Biarlah aku di sini  jalanku meniti

Seperti Eyang selalu nasehati

“Manusia tak kan mampu menggeser jalan yang tlah ditentukan Ilahi”

Nasihat inilah   yang selalu terucap di bibir hati

walau hanya untuk menghibur diri aku harus berpuas diri

SMK 1 Pringapus  kaulah rumah baruku

terimalah aku

jangan kau lihat tampangku

kau akan kecewa  karena ku tak miliki

ku hanya membawa niat suci untuk mengabdi

terimalah dengan hati karena  tak ternilai dan abadi

seperti ayah buyutku mengabdikan diri

di dunia seni

dan di dunia yang penuh siswa dan siswi

Jangan asingkan diriku anak-anakku

jangan sangsikan tentang diriku

kini aku milikmu bersatulah bersamaku

bersama menggayuh,  dan berpacu menuntut ilmu

di almamater  yang sejuk menghijau.

Perihal Bu Ambar
Sri Ambarwangi, S.Pd adalah guru Seni Budaya SMK 1 Pringapus Kabupaten Semarang. Media Web Blog ini adalah sebagai sarana pembelajaran bagi siswa SMK1 Pringapus khususnya mata pelajaran Seni Budaya.

4 Responses to Yang Selalu Ku Renungkan (2)

  1. maulid mengatakan:

    I Like it

  2. Rina Yulia mengatakan:

    kata2nya indah banget Bu’…, i like it
    mmbuatQu semangat lagi
    ^_^

Silakan isi komentar atau jawaban di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: