Hari Musik Nasional, lalu?

Oleh Drs. Suharto, S.Pd, M.Hum
MelaSuami (Suharto)lui Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013, 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional (HMN). Presiden (kala itu) Megawati pernah mencanangkannya. Penetapan itu mempertimbangkan musik sebagai ekspresi budaya yang bersifat universal dan multidimensional, yang mempresentasikan nilai-nilai luhur kemanusiaan serta memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional.

Pertanyaan saya sebagai warga Unnes yang berkecimpung di dunia pendidikan musik adalah what next? Yang lainnya mungkin akan bertanya, what for? Ini karena ada sebagian masyarakat yang masih meragukan peran musik bagi pendidikan, apalagi dalam kepres itu disebut “…memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional.” Bagi saya, itu kata-kata klise atau kalimat biasa ang sering saya dengar yang diucapakan para pejabat namun belum terimplementasi, terutama dalam pendidikan di sekolah.

Latar

Ide peringatan Hari Musik Nasional memang dilatarbelakangi keprihatinan para seniman atas kemerebakan pembajakan sehingga mematikan kreativitas mereka. Banyak seniman (pencipta lagu) yang kapok mencipta lagu karena yang menikmati hasilnya justru para pembajak.

Namun apakah dengan peringatan HMN setiap tahun, pembajakan akan berhenti dan kreativitas seniman tumbuh lagi? Tidaklah berlebihan jika saya mengatakan, “Tidak.” Kepres itu tidak cukup sebagai “lembaran pertama” yang menuju “lembaran-lembaran berikutnya” sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam kepres itu jika tidak ada komitmen berbagai pihak.

Keluhan para seniman di Indonesia adalah bentuk ekspresi kekalahan persaingan global.
– – SuhartoSaat ini para seniman masih berkutat pada masalah pembajakan. Sementara, di belahan dunia lain ‘tak peduli’ dengan istilah pembajakan, yang penting memproduksi barang sebanyak-banyaknya dan menjual kembali semurah-murahnya sehingga dapat memakmurkan rakyatnya.

Rupa-rupanya kita telah dibelenggu oleh sistem yang disebut hak cipta. Padahal, sistem itu diciptakan oleh negeri yang berideologi liberal dengan menciptakan kebebasan pasar. Kebebasan itulah yang memberikan keuntungan bagi yang bermodal besar.
Menurut para pengamat ekonomi global, hak cipta yang diberikan kepada para seniman pencipta hanyalah iming-iming belaka.

Selanjutnya, korporasilah yang mengambil keuntungan besar. Korporasi yang bersifat global telah menguasai ekonomi dunia termasuk budaya dengan sistem itu. Sehingga, hak cipta yang diagungkan akan melindungi para pencipta sebenarnya mengerdilkan seniman, selanjutnya lagi-lagi korporasilah yang panen. Sulit dibayangkan bagi dunia Barat tanpa sistem hak cipta ini (Smiers, 2009:324, Boyle, 1996: xiii, Drahos, 2002:15). Menurut Smiers, perlu ada cara alternatif untuk mengatasi ketidakadilan akibat sistem ini.

Keluhan para seniman di Indonesia adalah bentuk ekspresi kekalahan persaingan global. Ideologi kapitalis, yang kita sudah terlibat di dalamnya, telah mematikan industri kecil di seluruh dunia, termasuk memarginalkan budaya lokal digantikan budaya yang disebut budaya global ciptaan mereka.

Industri media merupakan salah satu yang sangat berpengaruh. Pembajakan berupa digitalisasi, misalnya, adalah sebuah keniscayaan karena perkembangan teknologi yang tak terbendungkan. Semestinya para seniman atau penyanyi mencari alternatif, misalnya dengan lebih mendekatkan pada audience-nya, memperbaiki cover CD-nya. Mengakrabkan diri pada teknologi adalah cara bijak agar tidak terus menjadi objek tetapi subjek. Dengan cara itulah seniman akan tetap eksis.

Sumber : Unnes:Gagasan

Perihal Bu Ambar
Sri Ambarwangi, S.Pd adalah guru Seni Budaya SMK 1 Pringapus Kabupaten Semarang. Media Web Blog ini adalah sebagai sarana pembelajaran bagi siswa SMK1 Pringapus khususnya mata pelajaran Seni Budaya.

Silakan isi komentar atau jawaban di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: